Diingatkan Pengamat, BNPT Awasi Gelagat Terorisme Selama Ramadan

Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka – Direktur Eksekutif Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC), Robi Sugara mengatakan, bulan Ramadan kerap dimanfaatkan oleh para teroris untuk melancarkan aksinya. Terlebih, bagi teroris yang menjual agama ketika beraksi.

“Bagi kelompok teroris yang menggunakan agama sebagai landasannya, khususnya Islam, bulan Ramadan akan dijadikan momentum untuk melakukan aksi terornya,” kata Robi, kepada RM.id, Jumat (15/3/2024).

Dijelaskan Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu, teroris beranggapan aksi yang dilaksanakan pada Ramadan, maka pahalanya dilipatgandakan.

“Sebab, Ramadan adalah bulan baik,” ungkap dia.

Pada kesempatan sama, menurut Dosen Universitas Malikussaleh, Al Chaidar, di bulan Ramadan atau menjelang Ramadan sering terjadi serangan. Dia mencontohkan bom Makassar tahun 2021 lalu.

“Kemudian penembakan Mabes Polri oleh Zakiah Aini. Serangan Mapolda Riau 2018 juga terjadi di bulan Ramadan. Semua pelaku terafiliasi dengan Jamaah Ansharud Daulah (JAD),” papar pengamat terorisme itu.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus melakukan upaya pencegahan terhadap penyebaran paham radikalisme dan terorisme di lingkungan masyarakat. Upaya itu bahkan semakin digencarkan pada Ramadan tahun ini.

“Terkait pencegahan radikalisme dan terorisme saat Ramadan, prinsipnya kegiatan pencegahan terus berlangsung di tengah masyarakat baik kesiapsiagaan, kontra radikalisasi dan deradikalisasi,” kata Direktur Deradikalisasi BNPT Brigjen Ahmad Nurwakhid, Jumat (15/3/2024).

Ia mengatakan, tidak ada kriteria tempat dan waktu khusus dalam melakukan pencegahan penyebaran paham radikalisme dan terorisme.

Seperti di pengajian-pengajian dan ceramah malam tarawih yang diduga sebagai sasaran.

Nurwakhid menuturkan secara umum kegiatan BNPT dalam aspek pencegahan meliputi kesiapsiagaan, kontra radikalisasi dan deradikalisasi.

Kesiapsiagaan artinya memastikan masyarakat memiliki kesiapan dan deteksi dini dalam mencegah aksi dan penyebaran paham radikal terorisme.

“Kontra radikalisasi berarti menangkal narasi, ideologi dan propaganda kelompok teroris agar tidak mempengaruhi masyarakat,” jelasnya.

Sedangkan deradikalisasi menyasar pembinaan ideologi. Baik terhadap narapidana teroris, mantan narapidana teroris dan mereka yang terpapar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*